Tag: public relation

MENGATASI DEMAM PANGGUNG

Salah satu penyebab presentasi gagal adalah perasaan grogi atau demam panggung. Peneliti komunikasi Michael Beatty (1988) pernah melakukan penelitian tentang kecemasan mahasiswa saat berbicara di depan umum. Dia menemukan lima faktor penting penyebab kegelisahaan atau demam panggung, yaitu:

  1. Hal baru. Situasi yang sifatnya baru dan berbeda membuat kita menjadi gelisah. Jika Anda sudah mengalami beberapa kali berbicara di depan umum, maka kegelisahan semacam itu akan berkurang.
  2. Status rendah. Jika Anda merasa bahwa orang lain merupakan pembicara yang lebih baik, maka kegelisahan Anda akan meningkat. Dengan berpikir lebih positif mengenai diri Anda sendiri dan dengan persiapan yang matang maka kegelisahan akan berkurang.
  3. Kesadaran. Jika Anda merasa menjadi pusat perhatian, seperti yang Anda alami saat berbicara di depan umum, maka kegelisahan akan meningkat. Dengan menganggap berbicara di depan umum itu sebagai layaknya orang mengobrol maka perasaan ini akan membantu mengurangi kegelisahan tersebut. Jika Anda dengan bebas dapat berbicara di kelompok kecil, maka anggap saja bahwa khalayak yang Anda hadapi adalah kelompok kecil yang “diperbesar”.
  4. Perbedaan. Jika Anda merasa bahwa khalayak yang Anda hadapi memiliki sedikit persamaan dengan Anda, maka kegelisahan Anda akan meningkat. Karena itu, tekankanlah persamaan antara Anda dengan khalayak saat Anda merencanakan pembicaraan, termasuk juga ketika Anda berbicara di hadapan mereka. Komunikasi akan lebih mudah dilakukan jika terjadi kondisi homofili (semakin besar kesamaan antara peserta komunikasi). Lawan homofili adalah heterofili.
  5. Pengalaman yang lalu. Jika Anda pernah mempunyai pengalaman demam panggung, maka ada kecenderungan timbul kegelisahan yang meningkat jika harus berbicara di depan umum. Pengalaman yang positif dalam berbicara di depan umum akan dapat mengurangi kegelisahan Anda.
    Dalam upaya menghilangkan rasa cemas dan demam panggung, Anda harus mempunyai konsep diri yang positif. Konsep diri berkaitan dengan bagaimana cara Anda memandang diri Anda dan persepsi Anda tentang bagaimana orang lain memandang diri Anda. Konsep diri adalah segala yang Anda pikirkan dan rasakan tentang diri Anda serta keseluruhan kepercayaan dan sikap yang Anda rasa tentang diri Anda. Sering Anda berprasangka buruk terhadap diri sendiri. Misalnya, jangan-jangan orang lain menganggap saya jelek, pasti si A menganggap saya nggak bisa. Jika hal ini berlarut, Anda bisa jatuh dalam fenomena nubuat yang dipenuhi sendiri.9 Artinya, pandangan orang lain tentang Anda terinternalisasi dalam benak Anda. Misalnya, merasa orang lain menganggap diri Anda bodoh, lama-lama tanpa Anda sadari anggapan tadi terinternalisasi ke dalam benak Anda.
    Konsep diri ini berkaitan dengan upaya melakukan “impression management”. Artinya, agar tujuan komunikasi kita tercapai, maka kita berusaha mengatur (memanage) cara kita berkomunikasi, penampilan diri kita, cara berjalan, dan sebagainya. Pada akhirnya membuat khalayak terkesan. Jika konsep diri kita negatif maka proses manajemen impresi ini sulit dilakukan. (sumber Rakhmat Kriyantono judul BEST PRACTICE HUMAS (PUBLIC RELATIONS) BISNIS DAN PEMERINTAH Manajemen Humas, Teknik Produksi Media Publisitas & Public Relations Writing)

Karya lain tulisan Rakhmat Kriyantono sebagai berikut :

  1. https://prenadamedia.com/product/pengantar-lengkap-ilmu-komunikasi-filsafat-dan-etika-ilmunya-serta-perspektif-islam/
  2. https://prenadamedia.com/product/teknik-praktis-riset-komunikasi-disertai-contoh-praktis-riset-media-pr-advertisingkomunikasi-organisasi-komunikasi-pemasaran/
  3. https://prenadamedia.com/product/teori-public-relations-perspektif-barat-dan-lokal/
  4. https://prenadamedia.com/product/teknik-riset-komunikasi-kuantitatif/