Penulis: prenada

KEMUNDURAN DAN KEHANCURAN Dinasti Umayyah

Ada beberapa faktor yang menyebabkan Dinasti Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran. Faktor-faktor itu antara lain:
1. Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah suatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang idak sehat di kalangan anggota keluarga istana.

2. Latar belakang terbentuknya Dinasti Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa Syi’ah (pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti di masa awal dan akhir maupun secara tersembunyi seperti di masa pertengahan kekuasan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.

3. Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam, makin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Di samping itu, sebagian besar golongan Mawali (non-Arab), terutama di Irak dan bagian Timur lainnya, merasa tidak puas karena status Mawali itu menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan keampuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah.

4. Lemahnya pemerintahan Daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak khlifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Di samping itu, golongan agama banyak yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang.

5. Penyebab langsung tergulingnya Dinasti Bani Umayyah adalah munculnya kekuasaan baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas ibn Abd al Muthalik. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi’ah, dan kaum Mawali yang merasa dikelasduakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.

Akumulasi dari berbagai penyebab tersebut serta gabungan dari faktor faktor lainnya yang mungkin tidak diuraikan dalam pembahasan ini, mengantar dinasti yang hampir satu abad berkuasa ini ke jalan keruntuhannya. Dinasti Bani Umayyah diruntuhkan oleh kekuatan politik Dinasti Bani Abbasiyah pada masa Khalifah Marwan bin Muhammad pada 127 H (744 M).

DANA HAJI INDONESIA Harapan dalam Paralogisme Pengelolaan dan Teorisasi Keuangan Syariah

Buku ini ditulis untuk memotret fenomena penyelenggaraan haji Indonesia dalam tataran yang lebih detail. Dengan menggunakan metode ilmiah, kami berusaha menyajikan rangkaian penyelenggaraan Harapan dalam Paralogisme Pengelolaan dan Teorisasi Keuangan Syariah haji di Indonesia, dari masa sebelum kemerdekaan hingga saat ini, agar keterhubungan sejarah dengan tata kelola haji Indonesia, khususnya pengelolaan dana haji, menjadi tergambar dengan jelas. Keterhubungan tersebut penting untuk dapat dikomunikan secara jelas karena berkaitan penting dengan pembentukan perspektif dan paralogisme dalam pengelolaan dana haji di Indonesia; tema yang menjadi sentral penelitian dan tulisan di buku ini.

Di Bab pertama, pembaca dapat menemukan alasan dibalik pentingnya kajian ini dilakukan. Pada bab tersebut juga dipaparkan metodelogi yang digunakan.

Bab kedua berbicara tentang pengelolaan dana haji dalam sejarah penyelenggaraan haji di Indonesia serta era baru pengelolaan dana haji setelah terbitnya Undang-Undang No. 34 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Dana Haji.

Bab ketiga memaparkan isu utama dalam tulisan ini: paralogisme yang terjadi dalam pengelolaan dana haji di Indonesia. Di antara tema utama yang diangkat dalam buku ini adalah masalah setoran awal, mata uang dan lindung nilai, entitas dana haji dan investasi, sustainabilitas
dana haji, dan potensi dam yang belum terkelola dengan optimal.

Bab keempat memperbincangkan tentang peran BPKH sebagai lembaga baru yang fokus kepada pengelolaan dana haji di Indonesia serta harapan yang ditumpukan kepadanya dalam kerangka yang lebih luas yaitu peningkatan pelayanan haji Indonesia di masa mendatang. Dalam bab ini juga dipaparkan bagaimana konsep utillity sharing yang merupakan ciri khas ekonomi Islam, memainkan peran penting dalam konsep ekonomi modern yang digunakan dalam menentukan arah kebijakan pengelolaan dana haji di Indonesia.

Dan di bab kelima, penulis menutup rangkaian tulisan ini dengan kesimpulan dan saran bagi pembaca, khususnya para pemangku kebijakan dan kepentingan dalam pengelolaan dana haji di Indonesia.

Pada akhirnya, penulis berharap karya ini menjadi gerbang bagi karya dan kajian ilmiah selanjutnya yang fokus kepada pengelolaan dan pengembangan dana haji di Indonesia, sehingga dapat memberikan kontribusi nyata bagi umat Islam di Indonesia.

TATA PENULISAN DAN CONTOH LEGAL MEMORANDUM

TATA PENULISAN DAN CONTOH LEGAL MEMORANDUM

A. TATA PENULISAN

Terdapat tiga bagian dalam penulisan LM yaitu bagian halaman depan, bagian bab-bab atau isi pokok, dan bagian belakang. Bagian halaman depan terdiri dari:

1. Halaman judul,

2. Halaman pengesahan,

3. Halaman motto dan persembahan,

4. Halaman kata pengantar,

5. Halaman daftar isi, dan

6. Halaman memorandum.

Pada halaman judul harus memuat hal-hal sebagai berikut:

(i) Judul Legal Memorandum yang ditulis dengan huruf kapital;

(ii) Nama penulis dan dosen pembimbing yang ditulis dalam huruf kapital;

(iii) Maksud ditulisnya Legal Memorandum yang ditulis dengan huruf kecil;

(iv) Lambang Universitas, dan yang terakhir;

(v) Nama fakultas, universitas dan kota serta tahun penulisan yang ditulis dengan huruf kapital. (Cara penulisannya lihat contoh di poin B bab ini).

Pada halaman pengesahan harus memuat tentang:

(i) Kata-kata “Disetujui untuk Diajukan kepada Sidang Ujian Tingkat Akhir Fakultas Hukum (namanya) Universitas (namanya)”;

(ii) Nama dan tanda tangan dosen pembimbing huruf kapital;

(iii) Nama dekan fakultas hukum universitas (namanya) ditulis dengan huruf kapital. (Cara penulisannya lihat contoh di poin B bab ini).

Halaman motto ditulis di bagian kiri atas dan halaman persembahan ditulis di bagian kanan bawah. Motto memuat kata-kata yang dipilih oleh penulis LM yang menjadi motto hidup atau filosofi hidup, sedangkan persembahan ditujukan untuk siapa karya tulis tersebut. (Cara penulisannya lihat contoh di poin B bab ini).

Halaman kata pengantar harus memuat, antara lain:

(i) Ucapan syukur;

(ii) Dalam rangka apa penyusunan LM tersebut ditulis, dan alasan mengapa penulis memilih tema atau masalah tersebut;

(iii) Suka duka proses penyusunan LM;

(iv) Pernyataan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan bantuan;

(v) Harapan penulis tentang manfaat penulisan LM dan pengakuan kekurangan yang mungkin ada dalam penulisan LM;

(vi) Pencantuman nama kota, tanggal, bulan dan tahun pembuatan, serta nama penulis LM. (Cara penulisannya lihat contoh di point B bab ini ).

Halaman daftar isi memuat isi atau sistematika LM yang terdiri-dari:

(i) Halaman judul;

(ii) Halaman pengesahan;

(iii) Motto dan persembahan;

(iv) Kata pengantar;

(v) Daftar isi;

(vi) Memorandum hukum;

(vii) Bab I kasus posisi;

(viii) Bab II pertanyaan hukum;

(ix) Bab III jawaban singkat;

(x) Bab IV pemeriksaan hukum;

(xi) Bab V analisis hukum;

(xii) Bab VI pendapat dan rekomendasi hukum;

(xiii) Daftar pustaka;

(xiv) Riwayat hidup penulis. (Cara penulisannya lihat contoh di point B bab ini).

Halaman memorandum memuat:

(i) Kepada siapa LM ditujukan;

(ii) Dari siapa LM tersebut (penulis);

(iii) Prihal apa LM tersebut; dan

(iv) Tempat dan waktu pembuatan LM. (Cara penulisan lihat contoh di point B bab ini).

Bagian Bab-bab atau Isi Pokok LM terdiri atas bab-bab yang terdiri dari:

1. Bab tentang kasus posisi,

2. Bab tentang pertanyaan hukum,

3. Bab tentang jawaban sementara,

4. Bab tentang pemeriksaan hukum,

5. Bab tentang analisis hukum, dan

6. Bab tentang pendapat dan rekomendasi hukum. (Cara penulisan lihat contoh di point B bab ini).

Bagian belakang LM terdiri atas:

1. Daftar pustaka; dan

2. Riwayat hidup penulis. (Cara penulisan lihat contoh di point B bab ini).

Daftar pustaka dapat dikelompokkan ke dalam lima kelompok referensi yaitu:

(i) Perundang-undangan

(ii) Dokumen kontrak;

(iii) Putusan pengadilan;

(iv) Buku/literatur;

(v) Jurnal atau majalah ilmiah;

(vi) dan lain-lain.

Seluruh bahan pustaka yang dicantumkan di dalam daftar pustaka harus merupakan bagian dari LM, artinya pustaka harus benar-benar yang telah dikutip dalam penulisan LM.

Daftar riwayat hidup memuat, antara lain:

(i) Nama penulis lengkap;

(ii) Tempat dan tanggal lahir;

(iii) Riwayat pendidikan;

(iv) Pengalaman orgnisasi;

(v) Prestasi yang pernah dicapai;

(vi) Dan lain-lain yang dianggap penting oleh penulis LM.

MENGATASI DEMAM PANGGUNG

Salah satu penyebab presentasi gagal adalah perasaan grogi atau demam panggung. Peneliti komunikasi Michael Beatty (1988) pernah melakukan penelitian tentang kecemasan mahasiswa saat berbicara di depan umum. Dia menemukan lima faktor penting penyebab kegelisahaan atau demam panggung, yaitu:

  1. Hal baru. Situasi yang sifatnya baru dan berbeda membuat kita menjadi gelisah. Jika Anda sudah mengalami beberapa kali berbicara di depan umum, maka kegelisahan semacam itu akan berkurang.
  2. Status rendah. Jika Anda merasa bahwa orang lain merupakan pembicara yang lebih baik, maka kegelisahan Anda akan meningkat. Dengan berpikir lebih positif mengenai diri Anda sendiri dan dengan persiapan yang matang maka kegelisahan akan berkurang.
  3. Kesadaran. Jika Anda merasa menjadi pusat perhatian, seperti yang Anda alami saat berbicara di depan umum, maka kegelisahan akan meningkat. Dengan menganggap berbicara di depan umum itu sebagai layaknya orang mengobrol maka perasaan ini akan membantu mengurangi kegelisahan tersebut. Jika Anda dengan bebas dapat berbicara di kelompok kecil, maka anggap saja bahwa khalayak yang Anda hadapi adalah kelompok kecil yang “diperbesar”.
  4. Perbedaan. Jika Anda merasa bahwa khalayak yang Anda hadapi memiliki sedikit persamaan dengan Anda, maka kegelisahan Anda akan meningkat. Karena itu, tekankanlah persamaan antara Anda dengan khalayak saat Anda merencanakan pembicaraan, termasuk juga ketika Anda berbicara di hadapan mereka. Komunikasi akan lebih mudah dilakukan jika terjadi kondisi homofili (semakin besar kesamaan antara peserta komunikasi). Lawan homofili adalah heterofili.
  5. Pengalaman yang lalu. Jika Anda pernah mempunyai pengalaman demam panggung, maka ada kecenderungan timbul kegelisahan yang meningkat jika harus berbicara di depan umum. Pengalaman yang positif dalam berbicara di depan umum akan dapat mengurangi kegelisahan Anda.
    Dalam upaya menghilangkan rasa cemas dan demam panggung, Anda harus mempunyai konsep diri yang positif. Konsep diri berkaitan dengan bagaimana cara Anda memandang diri Anda dan persepsi Anda tentang bagaimana orang lain memandang diri Anda. Konsep diri adalah segala yang Anda pikirkan dan rasakan tentang diri Anda serta keseluruhan kepercayaan dan sikap yang Anda rasa tentang diri Anda. Sering Anda berprasangka buruk terhadap diri sendiri. Misalnya, jangan-jangan orang lain menganggap saya jelek, pasti si A menganggap saya nggak bisa. Jika hal ini berlarut, Anda bisa jatuh dalam fenomena nubuat yang dipenuhi sendiri.9 Artinya, pandangan orang lain tentang Anda terinternalisasi dalam benak Anda. Misalnya, merasa orang lain menganggap diri Anda bodoh, lama-lama tanpa Anda sadari anggapan tadi terinternalisasi ke dalam benak Anda.
    Konsep diri ini berkaitan dengan upaya melakukan “impression management”. Artinya, agar tujuan komunikasi kita tercapai, maka kita berusaha mengatur (memanage) cara kita berkomunikasi, penampilan diri kita, cara berjalan, dan sebagainya. Pada akhirnya membuat khalayak terkesan. Jika konsep diri kita negatif maka proses manajemen impresi ini sulit dilakukan. (sumber Rakhmat Kriyantono judul BEST PRACTICE HUMAS (PUBLIC RELATIONS) BISNIS DAN PEMERINTAH Manajemen Humas, Teknik Produksi Media Publisitas & Public Relations Writing)

Karya lain tulisan Rakhmat Kriyantono sebagai berikut :

  1. https://prenadamedia.com/product/pengantar-lengkap-ilmu-komunikasi-filsafat-dan-etika-ilmunya-serta-perspektif-islam/
  2. https://prenadamedia.com/product/teknik-praktis-riset-komunikasi-disertai-contoh-praktis-riset-media-pr-advertisingkomunikasi-organisasi-komunikasi-pemasaran/
  3. https://prenadamedia.com/product/teori-public-relations-perspektif-barat-dan-lokal/
  4. https://prenadamedia.com/product/teknik-riset-komunikasi-kuantitatif/