Penulis: prenada

Alat Permainan Edukatif Anak Usia Dini

Alat permainan edukatif (APE) adalah segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai sarana untuk bermain yang mengandung nilai edukatif dan dapat mengembangkan seluruh kemampuan anak. APE dapat berupa apa saja yang ada disekeliling lingkungan, misalnya sapu, piring, gelas, sendok plastik, tutup panci, dan bangku kecil. Tetapi yang dimaksud ini di sini adalah APE yang dibuat sendiri dari bahan-bahan yang sudah tidak terpakai lagi atau bahan-bahan yang mudah didapat di sekitar. Secara umum, Alat Permainan Edukatif (APE) merupakan alat permainan yang dirancang dan dibuat untuk menjadi sumber belajar anak-anak usia dini agar mendapatkan pengalaman belajar. Pengalaman ini akan berguna untuk meningkatkan aspek-aspek perkembangan anak yang meliputi aspek fisik/motorik, emosi, sosial, bahasa, kognitif, dan moral. Alat permainan edukatif dapat mengoptimalkan perkembangan anak disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangannya.

Yang dimaksud alat permainan adalah semua alat bermain yang digunakan oleh anak untuk memenuhi naluri bermainnya dan memiliki berbagai macam sifat, seperti bongkar pasang, mengelompokkan, memadukan, mencari padananya, merangkai, membentuk, mengetuk, menyempurnakan suatu desain atau menyusun sesuai bentuk utuhnya. Sementara alat permainan edukatif merupakan alat yang bisa merangsang aktivitas bermain dan dapat menstimulasi serta mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Jadi, APE adalah permainan yang sengaja dirancang secara khusus untuk kepentingan pendidikan, sekaligus alat permainan yang dirancang untuk tujuan meningkatkan aspek-aspek perkembangan anak usia dini. APE tidak harus bagus dan selalu dibeli di toko, hasil buatan sendiri/alat permainan tradisional pun dapat digolongkan sebagai APE asalkan memenuhi syarat untuk mengembangkan berbagai apek perkembangan anak, menarik, dapat dimainkan dengan berbagai variasi, tidak mudah rusak, dan dapat diterima oleh semua kebudayaan.

Salah satu Alat Permainan Edukatif

Tree Smart

  1. Alat dan bahan untuk usia: 5-6 tahun
    a. Karton jerami.
    b. Kertas marmer.
    c. Kain flanel.
    d. Perekat kain.
    e. Lem tembak.
  2. Cara membuat
    a. Gunting kertas jerami membentuk seperti daun menjadi 4 bagian, dan 2 bagian untuk batang dari pohon tersebut.
    b. Balut kertas jerami yang sudah digunting tersebut dengan kertas marmer, untuk daun kertas berwarna hijau dan batang jertas berwarna coklat.
    c. Lalu bentuk pagar dari kertas jerami.
    d. Satukan antara daun dan batang sehingga berbentuk menjadi pohon.
    e. Lalu lem pohon tersebut di atas kertas jerami yang lebih tebal guna sebagai alasnya.
    f. Bentuk huruf, angka dan lainnya dari kertas jerami tesebut lalu balut dengan kertas marmer.
    g. Tempelkan perekat kain pada bagian-bagian daun pohon dan juga huruf, angka, dan lainnya.
    h. APE siap untuk dimainkan.
  3. Cara memainkan
    a. Perkenalkan cara main kepada anak dan aturan main.
    b. Menyiapkan peralatan bermain “Tree Smart and Fun”.
    c. Guru memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih memainkan bagian yang mana.
    d. Setelah anak memilih, lalu anak memainkannya dan di saat anak memainkan permainan tersebut anak diberikan pertanyaan-pertanyaan mengenai yang ia pilih, contohnya seperti apa makanan kelinci tersebut.
    e. Begitu seterusnya.
  4. Aspek perkembangan
    a. Perkembangan kognitif. Melalui media ini, anak belajar berbagai konsep warna, bentuk, ukuran, dan memungkinkan stimulasi perkembangan intelektualnya.
    b. Perkembangan bahasa. Dengan adanya media ini, anak akan terlatih dalam kemampuan berkomunikasinya, seperti dalam anak menyebutkan warna dan bentuk dan binatang yang dilihat anak.
    c. Perkembangan moral. Dengan media ini, membantu anak dalam bersikap seperti sabar dalam merekatkan permainan tersebut.
    d. Perkembangan fisik. Dengan media ini, memungkinkan anak akan mengerakkan dan melatih sebagian tubuhnya, sehingga anak memiliki kecakapan motorik. Seperti contoh ketika merekatkan permainan.
    e. Perkembangan kreativitas. Dengan media ini, dapat menumbuhkan kreativitas anak dalam bertanya kepada guru tentang warna, bentuk, dan manfaatnya terhadap yang dilihatnya.
  5. Indikator APE “Tree Smart and Fun”
    a. Anak mampu mengenal bentuk, warna, dan ukuran.
    b. Mengenal berbagai konsep bilangan, geometri, dan konsep membaca.
  6. Keunikan dari APE. APE ini kami buat semenarik mungkin agar anak senang dalam memainkannya, dan dalam satu APE ini banyak permainan yang bisa dimainkan oleh anak mulai dari mengenal huruf, angka, geometri dan lainnya. Juga alat dan bahan yang kami gunakan pada APE ini mudah untuk didapatkan.

Jangan Pisahkan Akhlak dari Agama; Catatan Atas Buku Fenomena Beragama

Artikel ini sudah dimuat di Bincang Syariah.

Buku Fenomena Beragama, Dari Dunia Arab Hingga Asia Pasifik ini menggambarkan tentang pengalaman-pengalaman penulis ketika melihat fenomena beragama di beberapa negara. Mulai dari dunia Arab hingga Asia Pasifik selalu dipenuhi dengan cerita menyedihkan dan menakutkan. Seakan-akan tidak ada cara lain untuk membuka ruang dialog demi tercapainya sebuah perdamaian dan keamanan bersama.

Kehadiran buku ini tentunya sangat penting mengingat umat Islam yang saat ini berjumlah sekitar 1,6 miliar, atau 23 persen dari total penduduk dunia yang berjumlah sekitar 6,9 miliar tersebut seringkali bikin keruh suasana. Artikel penulis di dalam ini banyak lebih banyak berisi kritik terhadap pemangku agama yang sering memberhalakan institusi agama sembari menafikan nilai-nilai ketuhanan.

Umat Islam seharusnya memerankan fungsinya sebagai Khalifah di muka bumi dengan kehadirannya sebagai rujukan bukan hanya dalam pembumian etik-moralitas luhur, tapi juga dalam pengembangan peradaban yang lebih berwajah manusiawi dan menjanjikan bagi masa depan yang lebih baik, realitasnya di lapangan ternyata tidak demikian. Mereka berusaha ingin menjalin hubungan dengan Allah, sehingga perilakunya terkadang jauh dari kearifan dan kebijaksanaan.

Dalam catatan Prof. KH. Abd A’la dalam bukunya “Ijtihad Islam Nusantara“, bahwasanya di beberapa negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, seperti Sudan, Syria dan Irak, konflik dan kekerasan dalam beragam bentuknya justru menjadi fenomena kehidupan sehari-hari mereka (Abd A’la, 2018: 1-2). Hal ini bertolakbelakang dengan nilai-nilai yang diajarkan Islam melalui paran para Nabi.

Melalui buku Prof. Azyumardi Azra ini kita akan melihat bahwa negara asing seperti Jepang yang dikenal sebagai negara yang sekuler pun, di mana pemerintah menurut hukum tidak boleh mendanai program terkait dengan lembaga yang membawa nama agama, saat itu sudah bisa memahami begitu pentingnya menjalin hubungan bilateral dan kerjasama serta membentuk iklim keamanan bersama antar negara dan agama. Seperti, sudah banyak orang Jepang yang belajar terhadap Islam tentang kedisiplinan, kebersihan, dan kerajinan belajar. Ini adalah sebuah keberhasilan luar biasa sekali.

Meskipun fokus kajian buku ini adalah sejarah tetapi nilai-nilai tasawuf dalam artikel ini tampak sekali. Saya sendiri melihat bahwa penulis buku ini di setiap penutup dari tiap-tiap artikel tersebut lebih menekankan pentingnya kontekstualisasi moralitas luhur tersebut.

Menurut KH. M.A. Sahal Mahfudz bahwa nilai iman atas dasar makrifat adalah yang paling kuat dan tinggi, karena dengan makrifat sulit iman seseorang dapat digoyahkan atau diragukan oleh unsur-unsur dari luar yang bertentangan dengan nilai-nilai nurani. (Baca: Biografi K.H. Ahmad Sahal Mahfudz: Fikih Sosial sebagai Instrumen Pemberdayaan Masyarakat)

Esensi Risalah Nabi Muhammad Saw adalah Keteladanan

Kita bisa mengambil pelajaran dari beberapa sajian yang disuguhkan Prof. Azyumardi dalam buku ini. Azyumardi melihat bahwa fenomena kekerasan yang marak terjadi di beberapa negara adalah merupakan bentuk kegagalan dari kelompok mainstream Islam dalam mencerna esensi risalah yang dibawakan oleh para utusan. Padahal tujuan risalah ini, menurut Azyumardi, adalah bukan untuk menebarkan kerusuhan melainkan bagaimana mereka bisa menunjukkan Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamin.

Sebagian besar yang membuat kerusuhan tersebut pada dasarnya mereka belum mengerti esensi dari risalah ini. Esensi risalah pada hakikatnya adalah bukan sebagai sistem aturan melainkan sebuah keteladanan. Kalau saja agama sebagai sistem aturan yang dimaksudkan Tuhan dalam risalah Muhammad Saw, menurut Nursamad Kamba, niscaya bukan keteladanan sebagai porosnya melainkan komitmen kolektif sedangkan komitmen kolektif membutuhkan otoritas untuk menjaga dan merawatnya.

Buku yang ditulis oleh pakar sejarah dan pernah menjabat sebagai rektor di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini sangat cocok untuk dijadikan sebagai bahan referensi bagi kita semua. Di dalamnya disajikan bagaimana cara memahami Islam sehingga gagasan risalah Nabi Muhammad yang merangkum nilai-nilai etik dan moralitas luhur itu dapat menjadi pondasi utama dalam segala sikap, termasuk dalam konstruksi politik umat.

Kalau kita perhatikan bahwa buku ini sebenarnya mengajarkan kita betapa pentingnya membangun umat yang berkarakter, inklusif, toleran, moderat dan mampu hidup bersama.

Di samping itu, juga mengajarkan kita tentang etika berdakwah yang menyejukkan itu. Ayat Alquran yang berbunyi, ‘Ud’u ila sabili rabbika bil-hikmati wal-mau’dzatil hasanati…, menurut Azyumardi Azra telah cukup jelas memerintahkan kepada kita agar berdakwah dengan memberikan pengajaran yang baik, dengan hikmah dan bijaksana.

Tapi kenyataannya banyak yang berdakwah namun tidak dengan cara demikian tersebut, yaitu dengan cara yang tidak bijak, tidak baik, dengan memaksa dan lain sebagainya. Terjadinya disparitas di sini, menurutnya, karena pemahaman kepada ayat-ayat seperti itu juga dipengaruhi oleh perspektif yang lain dari orang yang memahaminya dan lingkungannya. Maka dari itu, ketika terjadi perbedaan dan atau cara pandang yang berbeda-beda dalam menalar ayat-ayat Allah tersebut, seperti tertera pada cover belakang buku ini, kita dituntut harus lebih waspada dan memperbanyak membangun komonalitas atau kata bersama (common word) dari pada membesar-besarkan perbedaan.

Cara Capat Menyusun Tugas Akhir; Skripsi, Tesis dan Disertasi

Artikel sudah pernah di muat di Mata Madura News 25 mei 2020.

Mahasiswa semester akhir pasti akan melakukan penelitian sebagai pemenuhan tugas akhir. Tidak sedikit dari mereka terkadang merasa kesulitan dalam menyusun laporan akhir tersebut. Di satu sisi karena minimnya bahan literasi mereka. Di sisi lain, karena dalam menulis tugas akhir ini ada langkah-langkah konkret yang harus diperhatikan agar mereka bisa menyelessaikan tugas akhirnya dengan sempurna.

Buku ini berisikan tentang beberapa informasi berkenaan dengan pembahasan metodologi penelitian. Metodologi penelitian ini adalah sebuah jalan untuk menuju puncak (objek aatau sasaran yang dituju) penelitian. Untuk menuju puncak ada banyak jalan yang membingnungkan, sehingga melalui jalan-jalan ini para peneliti harus melewatinya. Jalan-jalan dimaksud adalah sebuah langkah atau proses. Atau dengan kata lain sebagai metode. Bagaimana cara mengingat banyak jalan yang terkadang membingungkan sementara ingatan dan pemaahaman para peneliti sangat terbatas?

Memimpikan menyusun karya tulis ilmiah sebagai pemenuhan tugas akhir agar segera selesai adalah bukan perkara mudah. Terkadang, banyak mahasiswa tidak segera menyelesaikan studinya bukan karena materi perkuliahannya tidak kunjung selesai, melainkan karena ada beberapa faktor yang beralasan sehingga mereka tidak segara diwisuda. Misalnya, karena tidak segera menyususun karya tulis ilmiah (skripsi, tesis dan disertasi) sebagai tugas akhir.

Dalam menyusun tugas akhir ini, para mahasiswa ataupun peneliti setidaknya telah menguasai dan memahami metode-metode penelitian. Ibarat jalan raya, beberapa metode penelitian ini berfungsi sebagai petunjuk jalan yang dapat memberikan informasi bagi siapapun. Melalui petunjuk jalan ini, seseorang akan terbantu menemukan titik sasaran yang dituju. Demikian halnya metode-metode penelitian. Ia menjelaskan prosedur atau proses untuk mencapai objek atau sasaran yang ingin dicapai, sehingga berkaitan dengan prosedur sistematis, teknik, atau cara penelitian yang dilakukan sedemikian rupa supaya sesuai dengan disiplin atau seni tertentu (hal V)

Para mahasiswa tidak perlu khawatir tugas-tugasnya tidak kunjung selesai jika yang bersangkutan telah benar-benar memahami pengertian metodologi penelitian dengan sebaik-baiknya. Pembahasan metodologi penelitian hanya memberikan jalan, menuntun para mahasiswa atau peneliti pada suatu arah yang lebih rasional, benar, dan tepat sasaran, sehingga tidak diperlukan lagi celoteh “saya tidak faham”; “saya tidak tahu cara memulainya”; dan lain sebagainya kepada dosen pembimbing yang bertugas membimbing dalam proses penyusunan tugas akhir, tinggal bagaimana mereka sanggup menjalaninya.

Biasanya keluhan mereka di seputar ide. Padahal ide-ide tersebut berseberangan di sembarang tempat, ruangan, alam bebas dan di manapun. Tidak percaya diri mereka saja yang berlebihan, sehingga takut memberanikan diri menyusun tugas akhir tersebut. Padahal manusia itu mampu menalar sesuatu yang abstrak yang terletak dalam ranah pengetahuan tentang ketidaktahuan termasuk ketidaktahuannya tentang segala sesuatu yang tidak diketahui yang terletak dalam keseluruhan universum menjadi objek imajinasi manusia (hlm. 13-14).

Secara garis besar, keseluruhan buku ini hadir dalam upaya membantu mengurangi kebingungan para calon peneliti dalam melakukan penyusunan karya tulis ilmiah sebagai tugas akhir. Buku ini diberi judul Metodologi Penelitian Kuantitatif karena pembahasannya sangat luas dari metode penelitian. Oleh karena itu, bagi calon peneliti kiranya membaca dan memiliki buku ini sangat penting.

Menetapkan Sistem Pengukuran Produktivitas

Menurut Sinungan (2003: 80), bahwa sistem pengukuran produktivitas
akan mampu meningkatkan kesadaran pekerja terhadap produktivitas
yang dihasilkan oleh dirinya sendiri dan kelompoknya. Oleh karena
itu, dalam pengukuran produktivitas harus mengikutsertakan karyawan
itu sendiri, sehingga terbuka kesadaran pada diri karyawan, apakah produktivitas
dirinya tinggi atau rendah.
Selama ini, mayoritas karyawan tidak menyadari apakah produktivitasnya
tinggi atau rendah. Akan tetapi, bila mereka diikutsertakan dalam
proses pengukuran produktivitas, mereka baru menyadari bahwa
produktivitas yang dihasilkan adalah tinggi/randah.
Proses pengukuran produktivitas meliputi langkah-langkah:

  1. tentukan unsur-unsur organisasi yang akan dievaluasi;
  2. tentukan jenis-jenis ukuran yang dapat dikembangkan;
  3. pilihlah metode yang dikehendaki oleh karyawan;
  4. pilihlah unit output yang akan diukur;
  5. pilihlan input yang akan dinilai;
  6. lakukan sosialisasi kepada pekerja;
  7. sosialisasikan ukuran-ukuran yang akan digunakan;
  8. lakukan penjelasan cara menentukan tinggi rendahnya produktivitas;
  9. buatlah contoh mengukur produktivitas di depan karyawan sebelum
    melakukan pengukuran produktivitas yang sesungguhnya;
  10. susunlah data yang sudah diperoleh;
  11. sampaikan kepada karyawan data mentah yang sudah diperoleh;
  12. pilihlah bobot penilaian yang sesuai;
  13. masukkanlah data yang diperoleh ke dalam formula yang sudah dirumuskan
    dan sudah diketahui oleh seluruh karyawan;
  14. sampaikanlah secara terbuka, fair, objektif, dan akuntabel seluruh
    hasil pengukuran produktivitas;
  15. dapatkan umpan balik atas hasil yang sudah diumumkan; dan
  16. tampunglah seluruh umpan balik tersebut dan lakukan perbaikan
    internal.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat diketahui batasan-batasan yang
perlu diukur dalam produktivitas maupun masalah-masalah utama
yang perlu dipecahkan berkaitan dengan peningkatan produktivitas.
Batasan-batasan tersebut perlu diketahui oleh karyawan dan pimpinan
dalam pelaksanaan pekerjaan. Hal ini tidak lain untuk meningkatkan
produktivitas kerja.

untuk mengetahui lebih banyak tentang manajemen sumber daya manusia, langsung klik saja link ini https://prenadamedia.com/product/teori-teori-manajemen-sumber-daya-manusia/

DUKUNGAN UNTUK SISWA CERDAS ISTIMEWA BERPRESTASI RENDAH

Sekalipun tujuan utama intervensi siswa cerdas istimewa yang berprestasi rendah adalah agar siswa termotivasi untuk berprestasi, namun untuk mencapai ini banyak cara intervensi yang perlu diberikan. Tergantung dari masalah yang dihadapi siswa. Jika kita kelompokkan maka dapat kita bagi menjadi:

  1. Intervensi di rumah oleh orangtua.
  2. Intervensi di sekolah.
  3. Intervensi di klinik dalam program konseling.
  4. Program Pendidikan Individu (PPI).
  5. Intervensi di Rumah oleh Orangtua
    Morawska, A. & Sanders, M. (2009a, 2009b) dalam penelitiannya tentang Triple P (Positive Parenting Program) yang dilaksanakan oleh orangtua di rumah dalam rangka intervensi perilaku dan emosional menunjukkan bahwa efektivitas yang lebih besar daripada jika intervensi ini dilakukan oleh guru di dalam kelas. Sebelum melaksanakan tugas intervensi ini sebelumnya orangtua mendapatkan pelatihan-pelatihan mengenal karakteristik anaknya, masalah-masalah yang ada, dan melaksanakan program intervensi di rumah melalui bimbingan tenaga ahli. Webb, J.T. dkk. (2007) menyarankan orangtua dengan pendampingan ahli agar mampu memahami berbagai masalah yang dihadapi anak, yaitu:
    a. Pengertian tentang individu cerdas istimewa.
    b. Karakteristik individu cerdas istimewa.
    c. Komunikasi efektif guna membangun relasi yang baik dengan anak.
    d. Masalah motivasi dan langkah-langkah yang harus diambil.
    e. Masalah karakteristik intensitas yang tinggi, perfeksionisme, dan stres.
    f. Perkembangan asinkroni pada anak cerdas istimewa.
    g. Disiplin dan manajemen diri pada anak.
    h. Idealisme pada individu cerdas istimewa.
    i. Rasa sedih, kecemasan (anxiety), rasa tak berdaya, dan depresi.
    j. Masalah bersosialisasi dan membangun pertemanan.
    k. Membangun hubungan yang harmonis dengan anggota keluarga yang lain.
    l. Tata nilai, tradisi, dan perkembangan moral.
    m. Masalah-masalah mungkin dihadapi oleh keluarga.
    n. Masalah-masalah dan penanganan cerdas istimewa dengan gangguan lain yang mengikutinya (twice exceptional).
    o. Bagaimana mencari bantuan jika terjadi kedaruratan.
    p. Mencari sekolah yang cocok.
    Dalam kehidupan sehari-hari di rumah, guna meningkatkan kemampuan siswa sesuai dengan potensi keberbakatannya, serta meningkatkan minat dan semangat mencapai cita-cita, Heacox & Cash (2020) menyarankan agar orangtua juga mengubah instruksi-instruksi kepada anaknya, seperti:
    a. Tugas-tugas kompleks, penuh makna dan tantangan, yang menggunakan kemampuan kognitif tinggi (evaluasi dan pemecahan masalah).
    b. Masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari dan pemecahannya .
    c. Beri kesempatan mengembangkan minat untuk masa depannya.
    d. Beri kesempatan memilih aktivitas-aktivitas yang diminatinya.
    e. Kontrol sejauh mana sudah ia menyelesaikan aktivitasnya.

Point no 2 sampai 5 bisa dibaca di buku beliau yang berjudul “Cerdas Istimewa di kelas inklusi. silahkan klik saja.

KEMUNDURAN DAN KEHANCURAN Dinasti Umayyah

Ada beberapa faktor yang menyebabkan Dinasti Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran. Faktor-faktor itu antara lain:
1. Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah suatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang idak sehat di kalangan anggota keluarga istana.

2. Latar belakang terbentuknya Dinasti Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa Syi’ah (pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti di masa awal dan akhir maupun secara tersembunyi seperti di masa pertengahan kekuasan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.

3. Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam, makin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Di samping itu, sebagian besar golongan Mawali (non-Arab), terutama di Irak dan bagian Timur lainnya, merasa tidak puas karena status Mawali itu menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan keampuhan bangsa Arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah.

4. Lemahnya pemerintahan Daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak khlifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Di samping itu, golongan agama banyak yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang.

5. Penyebab langsung tergulingnya Dinasti Bani Umayyah adalah munculnya kekuasaan baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas ibn Abd al Muthalik. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi’ah, dan kaum Mawali yang merasa dikelasduakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.

Akumulasi dari berbagai penyebab tersebut serta gabungan dari faktor faktor lainnya yang mungkin tidak diuraikan dalam pembahasan ini, mengantar dinasti yang hampir satu abad berkuasa ini ke jalan keruntuhannya. Dinasti Bani Umayyah diruntuhkan oleh kekuatan politik Dinasti Bani Abbasiyah pada masa Khalifah Marwan bin Muhammad pada 127 H (744 M).

DANA HAJI INDONESIA Harapan dalam Paralogisme Pengelolaan dan Teorisasi Keuangan Syariah

Buku ini ditulis untuk memotret fenomena penyelenggaraan haji Indonesia dalam tataran yang lebih detail. Dengan menggunakan metode ilmiah, kami berusaha menyajikan rangkaian penyelenggaraan Harapan dalam Paralogisme Pengelolaan dan Teorisasi Keuangan Syariah haji di Indonesia, dari masa sebelum kemerdekaan hingga saat ini, agar keterhubungan sejarah dengan tata kelola haji Indonesia, khususnya pengelolaan dana haji, menjadi tergambar dengan jelas. Keterhubungan tersebut penting untuk dapat dikomunikan secara jelas karena berkaitan penting dengan pembentukan perspektif dan paralogisme dalam pengelolaan dana haji di Indonesia; tema yang menjadi sentral penelitian dan tulisan di buku ini.

Di Bab pertama, pembaca dapat menemukan alasan dibalik pentingnya kajian ini dilakukan. Pada bab tersebut juga dipaparkan metodelogi yang digunakan.

Bab kedua berbicara tentang pengelolaan dana haji dalam sejarah penyelenggaraan haji di Indonesia serta era baru pengelolaan dana haji setelah terbitnya Undang-Undang No. 34 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Dana Haji.

Bab ketiga memaparkan isu utama dalam tulisan ini: paralogisme yang terjadi dalam pengelolaan dana haji di Indonesia. Di antara tema utama yang diangkat dalam buku ini adalah masalah setoran awal, mata uang dan lindung nilai, entitas dana haji dan investasi, sustainabilitas
dana haji, dan potensi dam yang belum terkelola dengan optimal.

Bab keempat memperbincangkan tentang peran BPKH sebagai lembaga baru yang fokus kepada pengelolaan dana haji di Indonesia serta harapan yang ditumpukan kepadanya dalam kerangka yang lebih luas yaitu peningkatan pelayanan haji Indonesia di masa mendatang. Dalam bab ini juga dipaparkan bagaimana konsep utillity sharing yang merupakan ciri khas ekonomi Islam, memainkan peran penting dalam konsep ekonomi modern yang digunakan dalam menentukan arah kebijakan pengelolaan dana haji di Indonesia.

Dan di bab kelima, penulis menutup rangkaian tulisan ini dengan kesimpulan dan saran bagi pembaca, khususnya para pemangku kebijakan dan kepentingan dalam pengelolaan dana haji di Indonesia.

Pada akhirnya, penulis berharap karya ini menjadi gerbang bagi karya dan kajian ilmiah selanjutnya yang fokus kepada pengelolaan dan pengembangan dana haji di Indonesia, sehingga dapat memberikan kontribusi nyata bagi umat Islam di Indonesia.

TATA PENULISAN DAN CONTOH LEGAL MEMORANDUM

TATA PENULISAN DAN CONTOH LEGAL MEMORANDUM

A. TATA PENULISAN

Terdapat tiga bagian dalam penulisan LM yaitu bagian halaman depan, bagian bab-bab atau isi pokok, dan bagian belakang. Bagian halaman depan terdiri dari:

1. Halaman judul,

2. Halaman pengesahan,

3. Halaman motto dan persembahan,

4. Halaman kata pengantar,

5. Halaman daftar isi, dan

6. Halaman memorandum.

Pada halaman judul harus memuat hal-hal sebagai berikut:

(i) Judul Legal Memorandum yang ditulis dengan huruf kapital;

(ii) Nama penulis dan dosen pembimbing yang ditulis dalam huruf kapital;

(iii) Maksud ditulisnya Legal Memorandum yang ditulis dengan huruf kecil;

(iv) Lambang Universitas, dan yang terakhir;

(v) Nama fakultas, universitas dan kota serta tahun penulisan yang ditulis dengan huruf kapital. (Cara penulisannya lihat contoh di poin B bab ini).

Pada halaman pengesahan harus memuat tentang:

(i) Kata-kata “Disetujui untuk Diajukan kepada Sidang Ujian Tingkat Akhir Fakultas Hukum (namanya) Universitas (namanya)”;

(ii) Nama dan tanda tangan dosen pembimbing huruf kapital;

(iii) Nama dekan fakultas hukum universitas (namanya) ditulis dengan huruf kapital. (Cara penulisannya lihat contoh di poin B bab ini).

Halaman motto ditulis di bagian kiri atas dan halaman persembahan ditulis di bagian kanan bawah. Motto memuat kata-kata yang dipilih oleh penulis LM yang menjadi motto hidup atau filosofi hidup, sedangkan persembahan ditujukan untuk siapa karya tulis tersebut. (Cara penulisannya lihat contoh di poin B bab ini).

Halaman kata pengantar harus memuat, antara lain:

(i) Ucapan syukur;

(ii) Dalam rangka apa penyusunan LM tersebut ditulis, dan alasan mengapa penulis memilih tema atau masalah tersebut;

(iii) Suka duka proses penyusunan LM;

(iv) Pernyataan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan bantuan;

(v) Harapan penulis tentang manfaat penulisan LM dan pengakuan kekurangan yang mungkin ada dalam penulisan LM;

(vi) Pencantuman nama kota, tanggal, bulan dan tahun pembuatan, serta nama penulis LM. (Cara penulisannya lihat contoh di point B bab ini ).

Halaman daftar isi memuat isi atau sistematika LM yang terdiri-dari:

(i) Halaman judul;

(ii) Halaman pengesahan;

(iii) Motto dan persembahan;

(iv) Kata pengantar;

(v) Daftar isi;

(vi) Memorandum hukum;

(vii) Bab I kasus posisi;

(viii) Bab II pertanyaan hukum;

(ix) Bab III jawaban singkat;

(x) Bab IV pemeriksaan hukum;

(xi) Bab V analisis hukum;

(xii) Bab VI pendapat dan rekomendasi hukum;

(xiii) Daftar pustaka;

(xiv) Riwayat hidup penulis. (Cara penulisannya lihat contoh di point B bab ini).

Halaman memorandum memuat:

(i) Kepada siapa LM ditujukan;

(ii) Dari siapa LM tersebut (penulis);

(iii) Prihal apa LM tersebut; dan

(iv) Tempat dan waktu pembuatan LM. (Cara penulisan lihat contoh di point B bab ini).

Bagian Bab-bab atau Isi Pokok LM terdiri atas bab-bab yang terdiri dari:

1. Bab tentang kasus posisi,

2. Bab tentang pertanyaan hukum,

3. Bab tentang jawaban sementara,

4. Bab tentang pemeriksaan hukum,

5. Bab tentang analisis hukum, dan

6. Bab tentang pendapat dan rekomendasi hukum. (Cara penulisan lihat contoh di point B bab ini).

Bagian belakang LM terdiri atas:

1. Daftar pustaka; dan

2. Riwayat hidup penulis. (Cara penulisan lihat contoh di point B bab ini).

Daftar pustaka dapat dikelompokkan ke dalam lima kelompok referensi yaitu:

(i) Perundang-undangan

(ii) Dokumen kontrak;

(iii) Putusan pengadilan;

(iv) Buku/literatur;

(v) Jurnal atau majalah ilmiah;

(vi) dan lain-lain.

Seluruh bahan pustaka yang dicantumkan di dalam daftar pustaka harus merupakan bagian dari LM, artinya pustaka harus benar-benar yang telah dikutip dalam penulisan LM.

Daftar riwayat hidup memuat, antara lain:

(i) Nama penulis lengkap;

(ii) Tempat dan tanggal lahir;

(iii) Riwayat pendidikan;

(iv) Pengalaman orgnisasi;

(v) Prestasi yang pernah dicapai;

(vi) Dan lain-lain yang dianggap penting oleh penulis LM.

MENGATASI DEMAM PANGGUNG

Salah satu penyebab presentasi gagal adalah perasaan grogi atau demam panggung. Peneliti komunikasi Michael Beatty (1988) pernah melakukan penelitian tentang kecemasan mahasiswa saat berbicara di depan umum. Dia menemukan lima faktor penting penyebab kegelisahaan atau demam panggung, yaitu:

  1. Hal baru. Situasi yang sifatnya baru dan berbeda membuat kita menjadi gelisah. Jika Anda sudah mengalami beberapa kali berbicara di depan umum, maka kegelisahan semacam itu akan berkurang.
  2. Status rendah. Jika Anda merasa bahwa orang lain merupakan pembicara yang lebih baik, maka kegelisahan Anda akan meningkat. Dengan berpikir lebih positif mengenai diri Anda sendiri dan dengan persiapan yang matang maka kegelisahan akan berkurang.
  3. Kesadaran. Jika Anda merasa menjadi pusat perhatian, seperti yang Anda alami saat berbicara di depan umum, maka kegelisahan akan meningkat. Dengan menganggap berbicara di depan umum itu sebagai layaknya orang mengobrol maka perasaan ini akan membantu mengurangi kegelisahan tersebut. Jika Anda dengan bebas dapat berbicara di kelompok kecil, maka anggap saja bahwa khalayak yang Anda hadapi adalah kelompok kecil yang “diperbesar”.
  4. Perbedaan. Jika Anda merasa bahwa khalayak yang Anda hadapi memiliki sedikit persamaan dengan Anda, maka kegelisahan Anda akan meningkat. Karena itu, tekankanlah persamaan antara Anda dengan khalayak saat Anda merencanakan pembicaraan, termasuk juga ketika Anda berbicara di hadapan mereka. Komunikasi akan lebih mudah dilakukan jika terjadi kondisi homofili (semakin besar kesamaan antara peserta komunikasi). Lawan homofili adalah heterofili.
  5. Pengalaman yang lalu. Jika Anda pernah mempunyai pengalaman demam panggung, maka ada kecenderungan timbul kegelisahan yang meningkat jika harus berbicara di depan umum. Pengalaman yang positif dalam berbicara di depan umum akan dapat mengurangi kegelisahan Anda.
    Dalam upaya menghilangkan rasa cemas dan demam panggung, Anda harus mempunyai konsep diri yang positif. Konsep diri berkaitan dengan bagaimana cara Anda memandang diri Anda dan persepsi Anda tentang bagaimana orang lain memandang diri Anda. Konsep diri adalah segala yang Anda pikirkan dan rasakan tentang diri Anda serta keseluruhan kepercayaan dan sikap yang Anda rasa tentang diri Anda. Sering Anda berprasangka buruk terhadap diri sendiri. Misalnya, jangan-jangan orang lain menganggap saya jelek, pasti si A menganggap saya nggak bisa. Jika hal ini berlarut, Anda bisa jatuh dalam fenomena nubuat yang dipenuhi sendiri.9 Artinya, pandangan orang lain tentang Anda terinternalisasi dalam benak Anda. Misalnya, merasa orang lain menganggap diri Anda bodoh, lama-lama tanpa Anda sadari anggapan tadi terinternalisasi ke dalam benak Anda.
    Konsep diri ini berkaitan dengan upaya melakukan “impression management”. Artinya, agar tujuan komunikasi kita tercapai, maka kita berusaha mengatur (memanage) cara kita berkomunikasi, penampilan diri kita, cara berjalan, dan sebagainya. Pada akhirnya membuat khalayak terkesan. Jika konsep diri kita negatif maka proses manajemen impresi ini sulit dilakukan. (sumber Rakhmat Kriyantono judul BEST PRACTICE HUMAS (PUBLIC RELATIONS) BISNIS DAN PEMERINTAH Manajemen Humas, Teknik Produksi Media Publisitas & Public Relations Writing)

Karya lain tulisan Rakhmat Kriyantono sebagai berikut :

  1. https://prenadamedia.com/product/pengantar-lengkap-ilmu-komunikasi-filsafat-dan-etika-ilmunya-serta-perspektif-islam/
  2. https://prenadamedia.com/product/teknik-praktis-riset-komunikasi-disertai-contoh-praktis-riset-media-pr-advertisingkomunikasi-organisasi-komunikasi-pemasaran/
  3. https://prenadamedia.com/product/teori-public-relations-perspektif-barat-dan-lokal/
  4. https://prenadamedia.com/product/teknik-riset-komunikasi-kuantitatif/