Kategori: Uncategorized

ETIKA DALAM MEMBUAT KONTEN DI SOSMED AGAR PESAN KAMU SAMPAI

Etika merupakan seperangkat aturan yang dipahami dan diakui  oleh para pengguna internet. Secara istilah dikenal dengan kata nettiquette yang bermakna sebagai etika atau tata nilai yang diterapkan dalam berkomunikasi di dunia siber (Nasrullah, 2014: 121).

Mengapa etika ini diperlukan?

1. Pengguna internet tidak berasal dari latar belakang dan lingkungan yang sama. Perbedaan ini mestinya menjadi pertimbangan dan juga harus dipatuhi oleh institusi karena pada dasarnya media digital seperti media sosial merupakan ruang publik yang bisa diakses oleh siapa saja. Perbedan jenjang  pendidikan, sebagai misal, bisa menyebabkan adanya kesenjangan dalam membaca setiap publikasi di media sosial.

2. Komunikasi yang terjadi di media digital cenderung mengandalkan pada aspek teks yang terbaca. Kondisi tersebut tentu memerlukan sikap kehati-hatian para pengelola media digital institusi, terutama di media sosial, untuk menghindari kesalahtafsiran atau pemaknaan yang berbeda oleh khalayak. Perbedaan bahasa juga dapat menjadi faktor hambatan yang dalam kasus tertentu merugikan institusi; penggunaan satu kata yang dalam bahasa daerah tertentu makannya baik, bisa jadi pada bahasa daerah lain bermakna berbeda, ungkapan kasar, atau bahkan berkonotasi jorok.

3. Pengunggahan konten di media digital tidak hanya bersifat tertuju kepada akun atau khalayak tertentu. Algoritma media sosial juga membuka peluang khalayak lain untuk bisa mengakses, misalnya di Facebook teman dari teman yang terkait dengan akun medsos intitusi bisa juga melihat publikasi. Selain itu, ada fitur yang memungkinkan khalayak untuk menyebarkan (share) konten kepada jaringannya, sehingga meskipun konten telah dihapus ada kemungkinan konten itu telah ditangkapan layar (screen capture) dan tersebar kepada khalayak lebih luas.

4. Media digital yang dikelola oleh institusi tidak hanya sebagai medium yang hadir di dunia digital atau virtual saja. Konten dan perilaku di media digital memiliki jalinan juga di dunia ofllineatau nyata. Apa yang terjadi di ruang digital bisa saja membawa efek dan dampaknya di kehidupan nyata. Perilaku pengelola di media sosial, sebagai contoh dengan menjelekkan konsumen,dapat mengakibatkan hilangnya calon pelanggan, adanya boikot terhadap produk, dan merosotnya kepercayaan terhadap jenama.

5. Situasi terkini atau momen menjadi pertimbangan penting sebagai  tatanan nilai dalam memproduksi dan mendistribusikan konten di media sosial. Situas sosial-politik, ekonomi, sampai pada situasi pribadi seperti dalam kondisi duka memberikan semacam sinyal kehati-hatian dalam mengelola media sosial. Akun media sosial institusi dengan demikian juga harus  menunjukkan rasa simpati dan empati terhadap berbagai peristiwa yang terjadi. Misalnya, terjadi kecelakaan mobil tunggal yang menewaskan sang sopir, tidak serta-merta akun mediasosial memublikasikan cara berkendaraan yang aman dan juga dipublikasi secara masif, meskipun produk yang dijual adalah alat atau perangkat keselamatan berkendaraan.

6. Perlunya pemahanan terhadap hak dan kewajiban serta berbagai aturan yang ada di media digital. Setiap pengguna oleh karena itu harus memahami etika di internet agar komunikasi digital yang dilakukan tidak melanggar norma maupun nilai-nilai seseorang atau komunitas tertentu.

Artikel ini diambil dari buku penulis.

Apa perbedaan antara PR EVENT, MARKETING EVENT dan MARKETING PUBLIC RELATIONS EVENT

Tidak sedikit organisasi yang masih mencampuradukan event antara pekerjaan PR dan Marketing dalam membuat suatu event. Oleh karena itu, perlunya pemahaman mengenai masing-masing bagian tersebut.

PR EVENT

Dalam public relations, membuat sebuah event tujuan nya untuk kebutuhan branding secara langsung, namun lebih mengarah kepada pembentukan reputasi, citra dan kesepa­haman antara publik dan organisasinya dimana ketiganya bisa menjadi hal yang berdampak positif atau negatif. Hal ini dikarenakan organisasi menghadapi pikiran masyarakat (opini publik) yang melahirkan persepsi di benak mereka me­ngenai suatu organisasi itu sendiri. Oleh karena hal ini sangat krusial, maka praktisi PR diwajibkan untuk memiliki gagasan yang baik tentang apa yang diinginkan para pemangku ke­pentingan dari suatu peristiwa.

MARKETING EVENT

Event marketing bertujuan untuk mendapatkan penjualan. Dalam hal ini marketing event lebih bersifat hard selling. Event marketing yang diselenggarakan harus memiliki pengaruh (impact) serta memberikan kesan mendalam kepada setiap orang yang hadir, sehingga customer maupun potential customer bisa cukup lama mengingat pengalaman yang menyenangkan tersebut. Dalam hal ini marketing event memiliki tujuan BISNIS yaitu: Introducing New Product, Selling Product on the event, New Customer Reach, Informing Value, Sustain Relationship with consumer.

MARKETING PUBLIC RELATIONS EVENT (MPR)

MPR ini bertujuan untuk mempromosikan produk na­mun dengan kegiatan yang sifatnya soft selling. Melalui pe­san soft selling tersebut, seseorang mampu menerima pesan dan mengubah kebiasaan mereka.

Kegiatan MPR ini pada prinsipnya adalah “berjualan me­lalui pesan reputasi” Intinya bagaimana dapat berkompetisi ditengah persaingan, mendapatkan citra baik dan mutual understanding Philip Kotler (1993) dalam Ruslan (2010:254) mengungkapkan secara garis besar peranannya, adalah:

• Penggunaan marketing public relations dapat mendu­kung berbagai program perusahaan, antara lain peran­an marketing public relations dalam upaya mencapai tujuan utama perusahaan dalam berkompetisi.

• Menumbuhkembangkan kesadaran konsumennya ter­hadap produk yang diluncurkan.

• Membangun kepercayaan konsumen terhadap citra perusahaan atau manfaat (benefit) atas produk yang di­ tawarkan/digunakan.

• Mendorong antusiasme (sales force) melalui suatu artikel sponsor (advetorial) tentang kegunaan dan manfaat suatu produk.

• Menekan biaya promosi iklan komersial, baik di media elektronik maupun media cetak dan sebagainya demi tercapainya efisiensi biaya.

• Komitmen untuk meningkatkan pelayanan kepada konsumen, termasuk upaya mengatasi keluhan-keluhan (handling complain) dan lain sebagainya demi tercapainya kepuasan pihak pelanggan.

• Membantu mengkampanyekan peluncuran produk-produk baru dan sekaligus merencanakan perubahan posisi produk yang lama.

• Mengomunikasikan terus menerus melalui media public relations (House PR Journal) tentang aktivitas dan program kerja yang berkaitan dengan kepedulian sosial dan lingkungan hidup agar tercapainya publikasi yang positif di mata masyarakat/publik.

• Membina dan mempertahankan citra perusahaan atau produk barang dan jasa, baik dari segi kuantitas maupun kualitas pelayanan yang diberikan kepada konsumennya.

• Berupaya secara proaktif dalam menghadapi suatu kejadian negatif yang mungkin akan muncul di masa mendatang

Alat Permainan Edukatif Anak Usia Dini

Alat permainan edukatif (APE) adalah segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai sarana untuk bermain yang mengandung nilai edukatif dan dapat mengembangkan seluruh kemampuan anak. APE dapat berupa apa saja yang ada disekeliling lingkungan, misalnya sapu, piring, gelas, sendok plastik, tutup panci, dan bangku kecil. Tetapi yang dimaksud ini di sini adalah APE yang dibuat sendiri dari bahan-bahan yang sudah tidak terpakai lagi atau bahan-bahan yang mudah didapat di sekitar. Secara umum, Alat Permainan Edukatif (APE) merupakan alat permainan yang dirancang dan dibuat untuk menjadi sumber belajar anak-anak usia dini agar mendapatkan pengalaman belajar. Pengalaman ini akan berguna untuk meningkatkan aspek-aspek perkembangan anak yang meliputi aspek fisik/motorik, emosi, sosial, bahasa, kognitif, dan moral. Alat permainan edukatif dapat mengoptimalkan perkembangan anak disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangannya.

Yang dimaksud alat permainan adalah semua alat bermain yang digunakan oleh anak untuk memenuhi naluri bermainnya dan memiliki berbagai macam sifat, seperti bongkar pasang, mengelompokkan, memadukan, mencari padananya, merangkai, membentuk, mengetuk, menyempurnakan suatu desain atau menyusun sesuai bentuk utuhnya. Sementara alat permainan edukatif merupakan alat yang bisa merangsang aktivitas bermain dan dapat menstimulasi serta mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Jadi, APE adalah permainan yang sengaja dirancang secara khusus untuk kepentingan pendidikan, sekaligus alat permainan yang dirancang untuk tujuan meningkatkan aspek-aspek perkembangan anak usia dini. APE tidak harus bagus dan selalu dibeli di toko, hasil buatan sendiri/alat permainan tradisional pun dapat digolongkan sebagai APE asalkan memenuhi syarat untuk mengembangkan berbagai apek perkembangan anak, menarik, dapat dimainkan dengan berbagai variasi, tidak mudah rusak, dan dapat diterima oleh semua kebudayaan.

Salah satu Alat Permainan Edukatif

Tree Smart

  1. Alat dan bahan untuk usia: 5-6 tahun
    a. Karton jerami.
    b. Kertas marmer.
    c. Kain flanel.
    d. Perekat kain.
    e. Lem tembak.
  2. Cara membuat
    a. Gunting kertas jerami membentuk seperti daun menjadi 4 bagian, dan 2 bagian untuk batang dari pohon tersebut.
    b. Balut kertas jerami yang sudah digunting tersebut dengan kertas marmer, untuk daun kertas berwarna hijau dan batang jertas berwarna coklat.
    c. Lalu bentuk pagar dari kertas jerami.
    d. Satukan antara daun dan batang sehingga berbentuk menjadi pohon.
    e. Lalu lem pohon tersebut di atas kertas jerami yang lebih tebal guna sebagai alasnya.
    f. Bentuk huruf, angka dan lainnya dari kertas jerami tesebut lalu balut dengan kertas marmer.
    g. Tempelkan perekat kain pada bagian-bagian daun pohon dan juga huruf, angka, dan lainnya.
    h. APE siap untuk dimainkan.
  3. Cara memainkan
    a. Perkenalkan cara main kepada anak dan aturan main.
    b. Menyiapkan peralatan bermain “Tree Smart and Fun”.
    c. Guru memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih memainkan bagian yang mana.
    d. Setelah anak memilih, lalu anak memainkannya dan di saat anak memainkan permainan tersebut anak diberikan pertanyaan-pertanyaan mengenai yang ia pilih, contohnya seperti apa makanan kelinci tersebut.
    e. Begitu seterusnya.
  4. Aspek perkembangan
    a. Perkembangan kognitif. Melalui media ini, anak belajar berbagai konsep warna, bentuk, ukuran, dan memungkinkan stimulasi perkembangan intelektualnya.
    b. Perkembangan bahasa. Dengan adanya media ini, anak akan terlatih dalam kemampuan berkomunikasinya, seperti dalam anak menyebutkan warna dan bentuk dan binatang yang dilihat anak.
    c. Perkembangan moral. Dengan media ini, membantu anak dalam bersikap seperti sabar dalam merekatkan permainan tersebut.
    d. Perkembangan fisik. Dengan media ini, memungkinkan anak akan mengerakkan dan melatih sebagian tubuhnya, sehingga anak memiliki kecakapan motorik. Seperti contoh ketika merekatkan permainan.
    e. Perkembangan kreativitas. Dengan media ini, dapat menumbuhkan kreativitas anak dalam bertanya kepada guru tentang warna, bentuk, dan manfaatnya terhadap yang dilihatnya.
  5. Indikator APE “Tree Smart and Fun”
    a. Anak mampu mengenal bentuk, warna, dan ukuran.
    b. Mengenal berbagai konsep bilangan, geometri, dan konsep membaca.
  6. Keunikan dari APE. APE ini kami buat semenarik mungkin agar anak senang dalam memainkannya, dan dalam satu APE ini banyak permainan yang bisa dimainkan oleh anak mulai dari mengenal huruf, angka, geometri dan lainnya. Juga alat dan bahan yang kami gunakan pada APE ini mudah untuk didapatkan.

Cara Capat Menyusun Tugas Akhir; Skripsi, Tesis dan Disertasi

Artikel sudah pernah di muat di Mata Madura News 25 mei 2020.

Mahasiswa semester akhir pasti akan melakukan penelitian sebagai pemenuhan tugas akhir. Tidak sedikit dari mereka terkadang merasa kesulitan dalam menyusun laporan akhir tersebut. Di satu sisi karena minimnya bahan literasi mereka. Di sisi lain, karena dalam menulis tugas akhir ini ada langkah-langkah konkret yang harus diperhatikan agar mereka bisa menyelessaikan tugas akhirnya dengan sempurna.

Buku ini berisikan tentang beberapa informasi berkenaan dengan pembahasan metodologi penelitian. Metodologi penelitian ini adalah sebuah jalan untuk menuju puncak (objek aatau sasaran yang dituju) penelitian. Untuk menuju puncak ada banyak jalan yang membingnungkan, sehingga melalui jalan-jalan ini para peneliti harus melewatinya. Jalan-jalan dimaksud adalah sebuah langkah atau proses. Atau dengan kata lain sebagai metode. Bagaimana cara mengingat banyak jalan yang terkadang membingungkan sementara ingatan dan pemaahaman para peneliti sangat terbatas?

Memimpikan menyusun karya tulis ilmiah sebagai pemenuhan tugas akhir agar segera selesai adalah bukan perkara mudah. Terkadang, banyak mahasiswa tidak segera menyelesaikan studinya bukan karena materi perkuliahannya tidak kunjung selesai, melainkan karena ada beberapa faktor yang beralasan sehingga mereka tidak segara diwisuda. Misalnya, karena tidak segera menyususun karya tulis ilmiah (skripsi, tesis dan disertasi) sebagai tugas akhir.

Dalam menyusun tugas akhir ini, para mahasiswa ataupun peneliti setidaknya telah menguasai dan memahami metode-metode penelitian. Ibarat jalan raya, beberapa metode penelitian ini berfungsi sebagai petunjuk jalan yang dapat memberikan informasi bagi siapapun. Melalui petunjuk jalan ini, seseorang akan terbantu menemukan titik sasaran yang dituju. Demikian halnya metode-metode penelitian. Ia menjelaskan prosedur atau proses untuk mencapai objek atau sasaran yang ingin dicapai, sehingga berkaitan dengan prosedur sistematis, teknik, atau cara penelitian yang dilakukan sedemikian rupa supaya sesuai dengan disiplin atau seni tertentu (hal V)

Para mahasiswa tidak perlu khawatir tugas-tugasnya tidak kunjung selesai jika yang bersangkutan telah benar-benar memahami pengertian metodologi penelitian dengan sebaik-baiknya. Pembahasan metodologi penelitian hanya memberikan jalan, menuntun para mahasiswa atau peneliti pada suatu arah yang lebih rasional, benar, dan tepat sasaran, sehingga tidak diperlukan lagi celoteh “saya tidak faham”; “saya tidak tahu cara memulainya”; dan lain sebagainya kepada dosen pembimbing yang bertugas membimbing dalam proses penyusunan tugas akhir, tinggal bagaimana mereka sanggup menjalaninya.

Biasanya keluhan mereka di seputar ide. Padahal ide-ide tersebut berseberangan di sembarang tempat, ruangan, alam bebas dan di manapun. Tidak percaya diri mereka saja yang berlebihan, sehingga takut memberanikan diri menyusun tugas akhir tersebut. Padahal manusia itu mampu menalar sesuatu yang abstrak yang terletak dalam ranah pengetahuan tentang ketidaktahuan termasuk ketidaktahuannya tentang segala sesuatu yang tidak diketahui yang terletak dalam keseluruhan universum menjadi objek imajinasi manusia (hlm. 13-14).

Secara garis besar, keseluruhan buku ini hadir dalam upaya membantu mengurangi kebingungan para calon peneliti dalam melakukan penyusunan karya tulis ilmiah sebagai tugas akhir. Buku ini diberi judul Metodologi Penelitian Kuantitatif karena pembahasannya sangat luas dari metode penelitian. Oleh karena itu, bagi calon peneliti kiranya membaca dan memiliki buku ini sangat penting.