Saala-Sailun: Canda Santri Kembar Ala Anekdot Gus Dur
WhatsApp
Deskripsi
Lahir di sebuah desa terpencil yang nyaris tak tertera di peta mudik. Si kembar Saala dan Sailun tumbuh dalam dekapan kesederhanaan surau kayu milik ayah mereka, seorang Kiai kampung yang bersahaja. Saala artinya yang bertanya dan Sailun artinya yang banyak bertanya.
Dengan banyak bertanya, Sang Kiai berharap anaknya cepat menguasai ilmu kehidupan yang dibentang oleh Allah Swt.
Ketika usia menginjak lima belas tahun, Sang Kiai mengatakan bahwa sumur di desanya mulai dangkal. Sudah saatnya Saala dan Sailun merantau jauh ke pinggiran kota guna ngangsu ke sumber ilmu dan pengetahuan lainnya.
Di Pondok Pesantren Modern inilah, Saala dan Sailun menemukan ruang bermain intelektual yang tak terbatas. Di sela-sela padatnya kurikulum formal, di serambi masjid, di teras kelas, di sudut kantin, di kamar asrama, mereka punya ritual unik: belajar berdua sambil membedah fenomena keilmuan melalui kacamata humor, lelucon, dan candaan.
Bagi Saala dan Sailun, esensi beragama tidak terletak pada dahi yang berkerut tegang atau wajah serius, memberikan dokma, seolah-olah benar sendiri. Namun sebaliknya, terinspirasi mendalam oleh warisan anekdot satir karya Gus Dur, si kembar merajut setiap waktu luang mereka menjadi panggung candaan yang cerdas, jenaka, sekaligus menohok ego manusia.
Buku ini bercerita tentang panggung candaan Saala dan Sailun ala anekdot Gus Dur.
Ulasan
Belum ada ulasan.