Genealogi Kekerasan dan Pergolakan Subaltern (Bara di Bali Utara)

Genealogi Kekerasan dan Pergolakan Subaltern (Bara di Bali Utara)

Rp 97.000,00

SKU: 19505910047 Categories: ,

Deskripsi

Sejarah panjang kekerasan di Kabupaten Buleleng sudah berlangsung lama. Studi inimelacaknya dari tragedi pembantaian massal 1965-1966 hingga kekerasan politik di Desa Petandakan pada 23 Oktober 2003 yang menelan korban dua bersaudara, Putu Negara dan Ketut Agustana. Sebelum sadisnya kekerasan di Kabupaten Buleleng, kekerasan berlangsung di Desa Banjar yang kemudian sering disebut dengan “Tragedi Banjar” yang mengakibatkan lebih banyak korban tewas.

Kabupaten Buleleng menunjukkan karakternya sebagai daerah yang sangat mudah tersulut kekerasan politik. Berbagai hajatan politik selalu ditunjukkan dengan beringasnya kekerasan para warganya. Sejarah panjang kekerasan politik di Buleleng—dan juga secara umum di Bali—ditunjukkan dengan ketegangan antara PNI dan PKI yang berujung pada pembantaian orang-orang yang dituduh anggota dan simpatisan PKI. Kabupaten Buleleng menjadi salah satu wilayah pembantaian yang berlangsung hampir di seluruh wilayah di Bali dan juga Indonesia. Berikutnya setelah PNI menikmati kemenangan dalam menumpas “sisa-sisa komunis”, terjadi aksi peng-Golkar-an yang kemudian terkenal dengan peristiwa peng-Golkar-an. Kali ini PNI yang mejadi korbannya karena tidak bersedia bergabung dengan Golkar, salah satu kekuatan politik rezim Orde Baru untuk membangun kekuasaannya. Terjadi aksi teror dan pembakaran kandang sapi milik anggota PNI yang masih belum bersedia bergabung ke Golkar. Berikutnya adalah kekerasan saat zaman Reformasi ketika PDIP menyeruak dengan kebebasannya setelah terbungkam selama rezim Orde Baru dan Golkar berkuasa. Maka tidaklah heran ketegangan dan kerusuhan partai politik sering melibatkan kedua partai besar ini.

Ada sebuah pertanyaan penting yang belum ditemukan jawaban yang memuaskan hingga kini yaitu kenapa di Kabupaten Buleleng kekerasan begitu akrab dan menjadi keseharian masyarakat dalam hidupnya? Mengapa krama Buleleng sangat beringas terutama dalam memperjuangkan aspirasi politiknya? Ataukah itu semua hanya rentetan dendam panjang yang mencari media untuk  meletup terus-menerus? Beberapa pertanyaan tersebut selalu mengusik saya selama melakukan studi tentang kekerasan di Bali. Pertanyaan itu tentu sangat penting dan menjadi titik sentral dalam studi tentang kekerasan yang sangat penting dielaborasi dalam studi-studi berikutnya. Namun, studi ini tidak berkeinginan untuk menjawab pertanyaan itu karena lebih memfokuskan untuk melihat detail pergolakan subaltern dalam kekerasan politik tersebut.

Informasi Tambahan

Weight 552 g
Pengarang

I Ngurah Suryawan

ISBN

978-979-3464-53-4

Cetakan

1

Halaman

490

Jenis Cover

Art Carton 260 gr

Jilid

Perfect Bending

Kertas isi

HVS 60gr

Tahun Terbit

10-Jan

Ukuran

15 X 23

Ucapan Terima Kasih......................................................................................... v
Prolog................................................................................................................. xiii
Daftar Isi............................................................................................................ xvii
Daftar Istilah dan Singkatan............................................................................ xxi
Bab I Pendahuluan
1. Latar Belakang................................................................................................ 2
2. Konsep dan Metode...................................................................................... 15
2.1 Genealogi.............................................................................................15
2.2 Kekerasan (Politik)..............................................................................16
2.3 Pergolakan Subaltern...........................................................................19
2.4 Bara di Bali Utara..............................................................................21
2.5 Metode.................................................................................................23

Bab II Kekerasan, Subaltern, dan Pascakolonial: Kajian Pustaka dan Pemetaan Teoretis
1. Kajian Pustaka................................................................................................ 31
2. Landasan Teori.............................................................................................64
2.1 Teori Poskolonial..................................................................................64
2.2 Subaltern Studies.................................................................................79
2.3 Teori Spiral Kekerasan Dom Helder Camara......................................91
2.4 Teori Kekerasan Struktural dan Kultural Johan Galtung....................95
2.5 Teori Kekerasan Negara dan Kekuasaan.............................................98
2.6 Kekerasan Kolektif.............................................................................104
2.7 Teori Subjektivitas Kekerasan............................................................108
2.8 Teori Kuasa Michel Foucault.............................................................111
2.9 Teori Hegemoni Antonio Gramsci......................................................124
2.10 Teori Habitus dan Kekerasan Simbolik Pierre Bourdieu...................128
3. Model Penelitian.......................................................................................... 138

Bab III Setting: “Bumi Panas” Buleleng dan Sejarah Desa Petandakan
1. Sejarah dan Gambaran Umum Kabupaten Buleleng.............................142
2. Sejarah dan Gambaran Umum Desa Petandakan...................................147

Bab IV Dari Bali Kolonial ke Pascakolonial: Pergolakan Kebudayaan, Kekerasan, dan Kekuasaan
1. Bali Kolonial: Tradisi Kekerasan dan Proyek “Pentradisian” Bali........160
2. Ekonomi Politik Kekerasan........................................................................ 179
3. Menuju Gumi Wug: Ketegangan Politik, Para Jagoan, dan
Perebutan Kekuasaan..................................................................................201
4. Pembantaian di “Tahun yang Tak Pernah Berakhir”: Jejak-Jejak
Manusia Merah Bali...................................................................................205
5. Orde Baru dan Pariwisata Budaya di Bali: Antara Budaya, Kuasa,
dan Rezim Pembangunan........................................................................... 217
6. Rezim yang Runtuh dan Bali Bergolak: Aksi Umat Menggugat
dan Amuk Massa Reformasi.................................................................... 234
7. Bom Bali, Pemulihan Citra dan Representasi Kekerasan.......................241
8. Di Rumah Kaca: Ajeg Bali dan Wajah Beringas Kekerasan “Adat”...253

BAB V Jejak Singa yang Beringas: Genealogi Kekerasan Politik dan Pembentukan Kekuasaan di Kabupaten Buleleng
1. Konsolidasi Kaum Nasionalis dan Pengganyangan “Manusia
Merah” 1965................................................................................................286
2. Banteng Terikat di Pohon Beringin: Kekerasan Peng-Golkar-an/
Bulelengisasi.................................................................................................. 319
3. Kisah Buleleng dalam Keakraban Kekerasan: Jejak Kekerasan
dan Politik Lokal Pasca-Reformasi.......................................................... 334

BAB VI Ketut Dapet dan Nyoman Dangin (Etnografi
Kekerasan dan Pergulatan Subaltern Bali)
1. Menjadi Kepala Desa Pasca-Peng-Golkar-an: Awal Sebuah Dendam?......................................................................................................357
2. Suatu Hari di Tahun 1999: Balasan Peng-Golkar-an..............................366
3. Tragedi “Buleleng Berdarah” 26 Oktober 2003.................................. 370
4. Jelmane To To Dogen: Kekerasan dan Dendam di Petandakan.........388
5. Kepedihan yang Tak Sirna: Hubungan dengan Krama Desa dan Keputusan Keluar dari Petandakan.........................................................394
6. Keluarga Nyoman Dangin dan Ketut Dapet: Kepedihan, Pergolakan, dan Kisah Bertahan Hidup.................................................400
7. Janji di Atas Penderitaan: Soal Bantuan dan Ngaben...........................412

BAB VII Posisi Subaltern dalam Genealogi Kekerasan
Bali Pascakolonial 419
Epilog.................................................................................................................429
Daftar Pustaka.................................................................................................. 441
Tentang Penulis................................................................................................457

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Genealogi Kekerasan dan Pergolakan Subaltern (Bara di Bali Utara)”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2017 , Design by Kodeforest